bolsas femininas

Lencana Facebook


SLIDE-1-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

SLIDE-2-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

SLIDE-3-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

If you are going [...]

SLIDE-4-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

SLIDE-5-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

Sabtu, 28 April 2012

tujuan pernikahan dalam islam


tujuan pernikahan dalam islam


Perkawinan mempunyai tujuan yang sangat mulia, tak hanya sekedar untuk memuaskan nafsu saja, akan tetapi ada hal-hal mulia di balik itu. Ust Yazid, seorang ustadz kawakan akan memberikan gambaran tentang apa sebenarnya tujuahan pernikahan dalam islam.
[red]

1. Untuk Memenuhi Tuntutan Naluri Manusia Yang Asasi
Di tulisan terdahulu [bagian kedua] kami sebutkan bahwa perkawinan adalah fitrah manusia, maka jalan yang sah untuk memenuhi kebutuhan ini yaitu dengan aqad nikah [melalui jenjang perkawinan], bukan dengan cara yang amat kotor menjijikan seperti cara-cara orang sekarang ini dengan berpacaran, kumpul kebo, melacur, berzina, lesbi, homo, dan lain sebagainya yang telah menyimpang dan diharamkan oleh Islam.

2. Untuk Membentengi Ahlak Yang Luhur.
Sasaran utama dari disyari'atkannya perkawinan dalam Islam di antaranya ialah untuk membentengi martabat manusia dari perbuatan kotor dan keji, yang telah menurunkan dan meninabobokan martabat manusia yang luhur. Islam memandang perkawinan dan pembentukan keluarga sebagai sarana efefktif untuk memelihara pemuda dan pemudi dari kerusakan, dan melindungi masyarakat dari kekacauan.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
'Artinya : Wahai para pemuda ! Barangsiapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih menundukan pandangan, dan lebih membentengi farji [kemaluan]. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa [shaum], karena shaum itu dapat membentengi dirinya'. [Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa'i, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi].

3. Untuk Menegakkan Rumah Tangga Yang Islami.
Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa Islam membenarkan adanya Thalaq [perceraian], jika suami istri sudah tidak sanggup lagi menegakkan batas-batas Allah, sebagaimana firman Allah dalan ayat berikut :

'Artinya : Thalaq [yang dapat dirujuki] dua kali, setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang bail. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang dhalim'. [Al-Baqarah : 229].

Yakni keduanya sudah tidak sanggup melaksanakan syari'at Allah. Dan dibenarkan rujuk [kembali nikah lagi] bila keduany sanggup menegakkan batas-batas Allah.

Sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al-Baqarah lanjutan ayat di atas :
'Artinya : Kemudian jika si suami menthalaqnya [sesudah thalaq yang kedua], maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dikawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya [bekas suami yang pertama dan istri] untuk kawin kembali, jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah, diternagkannya kepada kaum yang [mau] mengetahui '. [Al-Baqarah : 230]

Jadi tujuan yang luhur dari pernikahan adalah agar suami istri melaksanakan syari'at Sialm dalam rumah tangganya. Hukum ditegakkannya rumah tangga berdasarkan syari'at Islam adalah wajib. Oleh karena itu setiap muslim dan muslimah yang ingin membina rumah tangga yang Islami, maka ajaran Islam telah memberikan beberapa kriteria tentang calon pasangan yang ideal, yaitu: Harus Kafa'ah dan Shalihah.

a. Kafa'ah Menurut Konsep Islam
Pengaruh materialisme telah banyak menimpa orang tua. Tidak sedikit zaman sekarang ini orang tua yang memiliki pemikiran, bahwa di dalam mencari calon jodoh putra-putrinya, selalu mempertimbangkan keseimbangan kedudukan, status sosial dan keturunan saja. Sementara pertimbangan agama kurang mendapat perhatian. Masalah Kufu' [sederajat, sepadan] hanya diukur lewat materi saja.

Menurut Islam, Kafa'ah atau kesamaan, kesepadanan atau sederajat dalam perkawinan, dipandang sangat penting karena dengan adanya kesamaan antara kedua suami istri itu, maka usaha untuk mendirikan dan membina rumah tangga yang Islami inysa Allah akan terwujud. Tetapi kafa'ah menurut Islam hanya diukur dengan kualitas iman dan taqwa serta ahlaq seseorang, status sosial , keturunan dan lain-lainnya. Allah memandang sama derajat seseorang baik itu orang Arab maupun non Arab, miskin atau kaya. Tidak ada perbedaan dari keduanya melainkan derajat taqwanya [Al-Hujurat : 13].

'Artinya : Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang-orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal'. [Al-Hujurat : 13].

Dan mereka tetap sekufu' dan tidak ada halangan bagi mereka untuk menikah satu sama lainnya. Wajib bagi para orang tua, pemuda dan pemudi yang masih berfaham materialis dan mempertahanakan adat istiadat wajib mereka meninggalkannya dan kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah Nabi yang Shahih. Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :

'Artinya : Wanita dikawini karena empat hal : Karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih karena agamanya [ke-Islamannya], sebab kalau tidak demikian, niscaya kamu akan celaka'. [Hadits Shahi Riwayat Bukhari 6:123, Muslim 4:175]

b. Memilih Yang Shalihah
Orang yang mau nikah harus memilih wanita yang shalihan dan wanita harus memilih laki-laki yang shalih. Menurut Al-Qur'an wanita yang shalihah ialah :

'Artinya : Wanita yang shalihah ialah yang ta'at kepada Allah lagi memelihara diri bila suami tidak ada, sebagaimana Allah telah memelihara [mereka]'. [An-Nisaa : 34]

Menurut Al-Qur'an dan Al-Hadits yang Shahih di antara ciri-ciri wanita yang
shalihah ialah :

'Ta'at kepada Allah, Ta'at kepada Rasul, Memakai jilbab yang menutup seluruh auratnya dan tidak untuk pamer kecantikan [tabarruj] seperti wanita jahiliyah [Al-Ahzab : 32], Tidak berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan mahram, Ta'at kepada kedua Orang Tua dalam kebaikan, Ta'at kepada suami dan baik kepada tetangganya dan lain sebagainya'.

Bila kriteria ini dipenuhi Insya Allah rumah tangga yang Islami akan terwujud. Sebagai tambahan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menganjurkan untuk memilih wanita yang peranak [banyak keturunannya] dan penyayang agar dapat melahirkan generasi penerus umat.

4. Untuk Meningkatkan Ibadah Kepada Allah.
Menurut konsep Islam, hidup sepenunya untuk beribadah kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama manusia. Dari sudut pandang ini, rumah tangga adalah salah satu lahan subur bagi peribadatan dan amal shalih di samping ibadat dan amal-amal shalih yang lain, sampai-sampai menyetubuhi istri-pun termasuk ibadah [sedekah].

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
'Artinya : Jika kalian bersetubuh dengan istri-istri kalian termasuk sedekah !. Mendengar sabda Rasulullah para shahabat keheranan dan bertanya : 'Wahai Rasulullah, seorang suami yang memuaskan nafsu birahinya terhadap istrinya akan mendapat pahala ?' Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab : 'Bagaimana menurut kalian jika mereka [para suami] bersetubuh dengan selain istrinya, bukankah mereka berdosa .? 'Jawab para shahabat :'Ya, benar'. Beliau bersabda lagi : 'Begitu pula kalau mereka bersetubuh dengan istrinya [di tempat yang halal], mereka akan memperoleh pahala !'. [Hadits Shahih Riwayat Muslim 3:82, Ahmad 5:1167-168 dan Nasa'i dengan sanad yang Shahih].

5. Untuk Mencari Keturunan Yang Shalih.
Tujuan perkawinan di antaranya ialah untuk melestarikan dan mengembangkan bani Adam, Allah berfirman :

'Artinya : Allah telah menjadikan dari diri-diri kamu itu pasangan suami istri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?'. [An-Nahl : 72]

Dan yang terpenting lagi dalam perkawinan bukan hanya sekedar memperoleh anak, tetapi berusaha mencari dan membentuk generasi yang berkualitas, yaitu mencari anak yang shalih dan bertaqwa kepada Allah.

Tentunya keturunan yang shalih tidak akan diperoleh melainkan dengan pendidikan Islam yang benar. Kita sebutkan demikian karena banyak 'Lembaga Pendidikan Islam', tetapi isi dan caranya tidak Islami. Sehingga banyak kita lihat anak-anak kaum muslimin tidak memiliki ahlaq Islami, diakibatkan karena pendidikan yang salah. Oleh karena itu suami istri bertanggung jawab mendidik, mengajar, dan mengarahkan anak-anaknya ke jalan yang benar.

Tentang tujuan perkawinan dalam Islam, Islam juga memandang bahwa pembentukan keluarga itu sebagai salah satu jalan untuk merealisasikan tujuan-tujuan yang lebih besar yang meliputi berbagai aspek kemasyarakatan berdasarkan Islam yang akan mempunyai pengaruh besar dan mendasar terhadap kaum muslimin dan eksistensi umat Islam.


By emil salim with No comments

Sejarah dan Fungsi Teknologi Pembelajaran



Sejarah dan Fungsi Teknologi Pembelajaran

Makalah
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah: Teknologi Pendidikan
Dosen Pengampu:  Dr. Suja’I, M. Ag



 







                                                                                                                       




Disusun oleh:

Emil Salim: 073211029


FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2010


SEJARAH DAN FUNGSI TEKNOLOGI PENDIDIKAN

I.                   PENDAHULUAN

Seiring dengan kemajuan teknologi yang mengglobal telah terpengaruh dalam segala aspek kehidupan baik dibidang ekonomi, politik, kebudayaan seni dan bahkan di dunia pendidikan. Dunia pendidikan harus mau mengadakan inovasi yang positif untuk kemajuan pendidikan dan sekolah. Tidak hanya inovasi dibidang kurikulum, sarana-prasarana, namum inovasi yang menyeluruh dengan menggunakan teknologi informasi dalam kegiatan pendidikan. Teknologi pendidikan dapat mengubah cara pembelajaran yang konvensional menjadi nonkonvensional.
Dalam rangka Innovative School, sekolah harus merespon perkembangan dunia teknologi yang semakin canggih yang menyediakan segudang ilmu pengetahuan yang baru dan lama. Pembelajaran di sekolah perlu menggunakan serangkaian peralatan elektronik yang mampu bekerja lebih efektif dan efisien. Walaupun demikian, peran guru tetap dibutuhkan di kelas, ia sebagai desainer, motivator, pembimbing, dan sebagainya dan tentunya sebagai sosok individu harus tetap dihormati.
Teknologi Informasi dan Komunikasi (CIT) merupakan suatu kebutuhan menuju ”Innovative School” karena dengan penggunaan CIT diharapkan adanya peningkatan mutu belajar/ mengajar, peningkatan produktivitas/ efisiensi dan akses, peningkatan sikap belajar yang positif, pengembangan professional/ staff dan adanya peningkatan profil/ pengenalan. Kelima hal tersebut merupakan harapan sekaligus kebutuhan yang menjadi dasar perlunya penerapan CIT di sekolah. Dengan demikian diharapkan sekolah mengalami perubahan-perubahan yang sesuai dengan tuntutan global tetapi tetap searah dengan visi dan misinya yang dikorelasikan dengan kebutuhan sekolah dan daerah. Teknologi pendidikan seringkali diasumsikan dalam persepsi yang mengarah pada masalah elektronika padahal konsep teknologi mengandung pengertian yang luas untuk itu dalam tulisan ini akan dibahas lebih lanjut.

II.                RUMUSAN MASALAH

A.    Sejarah Teknologi Pendidikan
B.     Pengertian Teknologi Pendidikan
C.    Fungsi Teknologi Dan Kekurangan Teknologi Pendidikan

III.             PEMBAHASAN

A.    Sejarah Teknologi Pendidikan

a.       Definisi Awal  Sejarah Teknologi Pendidikan Dipandang Sebagai Media
Teknologi Pendidikan adalah suatu cara yang sistematis dalam mendesain, melaksanakan, dan mengealuasi proses keseluruhan dari belajar dan pembelajaran dalam betuk tujuan pembelajaran yang spesifik, berdasarkan penelitian dalam teori belajar dan komunikasi pada manusia dan menggunakan kombinasi sumber-sumber belajar dari manusia maupun non manusia untuk membuat pembelajaran lebih efektif.
Definisi teknologi pendidikan pada awal tahun 1920 dipandang sebagai media. Akar terbentuknya pandangan ini terjadi ketika pertama kali diproduksi media pendidikan pada awal abad dua puluhan. Media ini, sebagai media pembelajaran visual yang berupa film, gambar dan tampilan yang mulai ramai pada tahun 1920. definisi formal pembelajaran visual terfokus pada media yang digunakan untuk menampilkan sebuah pelajaran. Pandangan ini berlanjut sampai 1950.
b.      Tahun 1960 dan 1970 Teknologi Pendidikan Diapandang Sebagai Suatu Proses.
Awal tahun 1950, khususnya selama tahun 1960 dan 1970 sejumlah ahli dalam bidang pendidikan mulai mendiskusiakan teknologi pendidikan dalam suatu yang berbeda. Mereka membahasnya sebagai suatu proses. Contohnya Finn (1960) mengatakan bahwa teknologi pendidikan harus dipandang sebagai suatu cara untuk melihat masalah pendidikan dan mneguji kemungkinan solusi dari masalah tersebut. Sedangkan Lumsdaine (1964) mengatakan bahwa teknologi pendidikan dapat dijadikan aplikasi ilmu pengetahuan pada praktek pendidikan. Pada tahun 1960an dan 1970 banayak definisi teknologi pendidikan yang dipandang sebagai suatu proses.

c.       Definisi 1963
Di tahun 1963, definisi teknologi pendidikan digambarkan bukan hanya sebagai sebuah media. Definisi ini (Ey, 1963) menghasilkan dengan suatu komisi pengawas yang dibentuk olep Departemen Pendidikan Audiovisual (sekarang dikenal sebagai Asosiasi Teknologi dan Komunikasi Pendidikan). Hal ini merupakan suatu hal yang berangkat dari pandangan “tradisional” terhadap teknologi pendidikan. Definisi kini lebih memusat pada desain pembelajaran dan penggunaan media sebagai pengendalian proses belajar (p. 38). Lebih dari itu pengertian kini lebih menganali serangkaian langkah-langkah penerapan, perancangan, dan penggunaan. Langkah-langkah ini mencakup perencanaan, produksi, pemilihan, pemanfaatan, dan manajemen. Perubahan disini mencerminkan bahwa, bagaimana lingkungan dan kemajuan zaman dapat mengubah sebuah definisi dan praktek dari teknologi pendidikan.
d.      Definisi 1970
Definisi selanjutnya merupakan definisi tahun 1970-an yang dikeluarkan oleh Komisi Pengawas Teknologi Pendidikan. Komisi pengawas ini dibentuk dan dibiayai oleh pemerintah Amerika Serikat untuk menguji permasalahan dan manfaat potensial yang berhubungan dengan teknologi pendidikan di sekolah-sekolah.
Teknologi pendidikan adalah suatu cara yang sistematis dalam mendesain, melaksanakan, dan mengevaluasi proses keseluruhan dari belajar dan pembelajaran dalam bentuk tujuan pembelajaran yang spesifik, berdasarkan penelitian dalam teori belajar dan komunikasi pada manusia dan mengunakan kombinasi sumber-sumber belajar dari manusia maupun non manusia untuk membuat pembelajaran lebih efektif.
Jadi menurut konsep ini tujuan utama teknologi pembelajaran adalah membuat agar suatu pembelajaran lebih efektif. Bagaimana hal itu dilakukan? Dengan cara mendesain, melaksanakan dan mengevaluasi secara sistematis berdasarkan teori komunikasi dan belajar tentunya, serta memanfaatkan segala sumber baik yang bersifat manusia maupun non manusia, dengan demikian, sejak tahun 1970an, sudah ada pandangan bahwa manusia (dalam hal ini guru) bukanlah satu-satunya sumber belajar.
e.       Definisi 1977
Teknologi Pendidikan adalah proses kompleks yang terintegerasi meliputi orang, prosedur, gagasan, sarana dan organisasi untuk menganalisa masalah dan merancang. Melaksanakan, menilai dan mengelola pemecahan masalah dalam segala aspek belajar manusia.
f.       Definisi 1994
Teknologi instruksional adalah praktek dalam mendesain, mengembangkan, memanfaatkan, mengelola dan menilai proses-proses maupun sumber-sumber balajar. Definisi ini lebih operasional dari pada rumusan tahun 1977 yang terlalu rumit, definisi ini menegaskan bahwa adanya lima dominant teknologi pembelajaran, yaitu kawasan desain, kawasan pengemabangan, kawasan pemanfaatan, kawasan pengelolaan, dan kawasan penilaian baik untuk proses maupun sumber belajar, seorang teknolog pembelajaran bias saja memfokuskan bidang garapannya dalam salah satu kawasan tersebut.
g.      Definisi baru : menyatakan peran media, desain pembelajaran sistematis, dan pendayagunaan teknologi.
Bidang teknologi dan desain pembelajaran mencakup analisis pembelajaran dan pencapaian masalah serta rancangan, pengembangan, pemanfaatan, evaluasi, manajemen, pembeljaaran, proses non pembelajaran untuk meningkatkan pencapaian pelajaran dalam berbagai peraturan, bidang pendidikan dan tempat kerja.
Para ahli bidang desain pembelajaran dan teknologi sering menggunakan prosedur desain pembelajaran yang sistematis dari berbagai media pembelajaran untuk menyelesaikan tujuan mereka. Definisi ini menggaris bawahi dua praktek yaitu penggunaan media untuk tujuan pendidikan dan penggunaan prosedur desain pembelajaran yang sistematis. Mengapa kita menyebutnya desain pembelajaran dan teknologi ?
Definisi berbeda dari yang sebelumnya. Lebih mengacu pada bidang desain pembelajaran dan teknologi dibandingkan dengan teknologi pembeljaaran. Mengapa kebanyakan individu menggambarkan istilah teknologi pembelajaran dengan komputer, video, OHP, dan segala jenis hardware dan software lainnya yang berhubungan dengan media pembelajaran. Dengan kata lain banyak individu yang menyamakan teknologi pembelajaran dengan desain pembelajaran. Praktek desain pembelajaran sudah meletus sehingga banyak digunakan oleh individu yang menyebut diri mereka perancang pembelajaran.
B.     Pengertian Teknologi Pendidikan
Pengertian Teknologi Pendidikan Sebelum membahas teknologi pendidikan terlebih dahulu perlu diketahui pengertian teknologi. Kata Teknologi seringkali oleh masyarakat diartikan sebagai alat elektronik. Tapi oleh ilmuwan dan ahli filsafat ilmu pengetahuan diartikan sebagai pekerjaan ilmu pengetahuan untuk memecahkan masalah praktis. Kata “Teknologi” berasal dari bahasa “yunani”  yang artinya : technologis . Technik berarti seni, keahlian atau sains ; dan Logos yang artinya ilmu. Menurut Geibraith dapat di artikan sebagai penerapan sisitematik dari pengetahuan Ilmiah, atau terorganisasikan dalam hal-hal yang praktis. Teknologi Pendidikan dalam arti sempit adalah bisa merupakan media pendidikan, yaitu hasil teknologi sebagai alat bantu dalam pendidikan agar berhasil guna efisien dan efekyif.[1] Jadi teknologi lebih mengacu pada usaha untuk memecahkan masalah manusia. Menurut Yp Simon (1983), teknologi adalah suatu displin rasional yang dirancang untuk meyakinkan penguasaan dan aplikasi ilmiah. Menurut (An) Teknologi tidak perlu menyiratkan penggunaan mesin, akan tetapi lebih banyak penggunaan unsur berpikir dan menggunakan pengetahuan ilmiah. Menurut Paul Saetiles (1968). Teknologi selain mengarah pada permesinan, teknologi meliputi proses, sistem, manajemen dan mekanisme kendali manusia dan bukan manusia. Pengertian Teknologi Pendidikan diabad ke dua puluh meliputi lentera pertama proyektor slide, kemudian radio dan kemudian gambar hidup. Sedangkan abad 19 ke bawah sampai lima belas teknologi lebih diartikan papan tulis dan buku.
Menurut Prof. Sutomo dan Drs. Sugito, M.Pd Teknologi Pendidikan adalah proses yang kompleks yang terpadu untuk menganalisis dan memecahkan masalah belajar manusia/ pendidikan.[2] Menurut ”Mackenzie, dkk” (1976) Teknologi Pendidikan yaitu suatu usaha untuk mengembangkan alat untuk mencapai atau menemukan solusi permasalahan.  Jadi Teknologi Pendidikan adalah segala usaha untuk memecahkan masalah pendidikan. Lebih detail dapat diuraikan bahwa:
Teknologi Pendidikan lebih dari perangkat keras. Ia terdiri dari desain dan lingkungan yang melibatkan pelajar. Teknologi dapat juga terdiri segala teknik atau metode yang dapat dipercaya untuk melibatkan pelajaran; strategi belajar kognitif dan keterampilan berfikir kritis.  Belajar teknologi dapat dilingkungan manapun yang melibatkan siswa belajar secara aktif, konstruktif, autentik dan kooperatif seta bertujuan.
Kata Media dari bahasa latin yang artinya medius yang secara harfiah artinya “tengah” perantara atau pengantar. Batasan lain telah dikemukakan para ahli yang sebagian diantaranya akan diberikan devinisinya sebagai berikut: AECT (Assosiation Of Edukating and Communication Technologi) memberikan batasan media sebagai segala bebtuk saluran yang digunakan sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi. Media adalah alat yang digunakan untuk menyampaikan pesan-pesa dalam pembelajaran.[3]
Dalm hal ini proses belajar mengajar juga memerlukan media, di sini kegunaan media  pendidikan dalam proses belajar mengajar secara umum adalah:
1.                          Memperjelas penyampaian pesan agar tidak terlalu verbalitas.
2.                          Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indra.
3.             Dengan menggunakan media secara tepat dan bervariasi dapat diatasi sikapasif anak didik.
4.             Dengan sifat yang unik pada tiap siswa di tambah lagi dengan limgkungan dan pengalaman yang berbeda sedangkan kurikulum dan materi pendidikan di etntukan sama untuk setiap siswa, maka guru akan banyak mengalami kesulitan bila mana semuanya itu harus diatasi sendiri. [4]
C.    Fungsi Tekknologi Pendidikan dalam Pembelajaran
Teknologi Pendidikan sebagai peralatan untuk mendukung konstruksi pengetahuan:    
1.                        Untuk mewakili gagasan pelajar pemahaman dan kepercayaan
2.                        Untuk organisir produksi, multi media sebagai dasar pengetahuan                            pelajar
3.                        Teknologi pendidikan sebagai sarana informasi untuk menyelidiki                     pengetahuan yang mendukung pelajar
4.                        Untuk mengakses informasi yang diperlukan.
5.                        Untuk perbandingan perspektif, kepercayaan dan pandangan dunia.
6.                        Teknologi pendidikan sebagai media sosial untuk mendukung                                  pelajaran dengan berbicara.
7.                        Untuk berkolaborasi dengan orang lain.
8.                        Untuk mendiskusikan, berpendapat dan membangun konsensus                               antara anggota sosial.
Hubungan Teknologi Pendidikan dan Innovative School Inovasi pendidikan merupakan hal yang perlu dilakukan oleh tiap sekolah jika sekolah ingin maju. Perubahan sekolah bukan hanya dilihat dengan adanya seperangkat alat elektronika yang canggih di sekolah, namun banyak aspek yang menjadi indikator. Innovative school artinya perubahan sekolah atau perubahan pendidikan.
Ciri-ciri inovasi pendidikan dapat dikenal dengan beberapa identifikasi, namun menurut ashby 1967 ada empat : Ketika masyarakat /orang tua mulai sibuk dengan peran keluar sehingga tugas pendidikan anak sebagian digeser dari orang tua pindah ke guru atau dari rumah ke sekolah. Terjadi adopsi kata yang ditulis ke instruksi lisan. Adanya penemuan alat untuk keperluan percetakan yang mengakibatkan ketersediaan buku lebih luas.
Adanya alat elektronika yang bermacam-macam radio, telepon, TV, computer, LCD proyektor, perekan internet, LAN, dsb ). Keempat perubahan di atas di dunia pendididkan telah menimbulkan banyak masalah, dan untuk itulah kelima teknologi yang dibahas pada point sebelumnya sangat membantu untuk solusi pemecahan.
Perubahan pendidikan/sekolah yang dinginkan sekolah sesuai visi dan misinya tentunya sangat tergantung pada lima teknologi tersebut yaitu sistem berfikir, sistem desain, ilmu pengetahuan yang berkualitas, manajemen. Sekarang sekolah negeri maupun swasta mulai berusaha keras untuk mengatur kembali sistem pendidikan mereka. Banyak program sekolah yang ditawarkan pada masyarakat baik itu jurusan maupun status sekolah yaitu SSN, unggul, model, internasional, akselerasi dan sarana prasarananya. Yang jelas perubahan sekolah untuk menghadapi dunia global harus disiapkan dari unsur SDM yang berkualitas sehingga mampu berfikir membuat desein pendidikan, punya kiat manajemen yang baik dan tidak gagap terhadap pendidikan. Jadi dapat dikatakan bahwa antara inovasi pendidikan dengan teknologi pendidikan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Inovasi merupakan okbyek dan teknologi pendidikan merupakan subyeknya. - Dalam inovasi pendidikan butuh SDM dan peralatan yang menunjang inovasi pendidikan, sebaliknya SDM dan alat tidak akan berfungsi tanpa digunakan untuk sasaran/tujuan yang pasti dan bermanfaat dimasa datang.





IV.             KESIMPULAN
Arti pembahasan yang telah diuraikan diatas dapat kita simpulkan bahwa :
1.    Teknologi pendidikan adalah proses yang komplek yang terpadu untuk menganalisis dan memecahkan masalah belajar manusia/pendidikan.
2. Teknologi pendidikan sangat diperlukan dalam usaha menuju “ Innovative School “ atau perubahan sekolah karena dalam teknologi pendidikan tidak hanya unsur elektronik saja yang ada tapi SDM yang berkualitas atau mampu berpikir, mendesain sistem, dan punya ilmu pengetahuan untuk melakukan manajemen perubahan serta melakukan teknologi pembelajaran.
3“ Innovative School “ perlu dilaksanakan supaya sekolah mampu menjawab tantangan global dan tuntutan masyarakat.       
      Saran       
1.    Hendaknya sekolah mempersiapkan sarana prasarana untuk kebutuhan tekonologi pendidikan.
2.    Hendaknya sekolah menyiapkan SDM yang siap menerapkan teknologi pendidikan untuk perubahan sekolah (Innovative School ).
3.    Hendaknya pemerintah sering mengadakan pelatihan seperti Jardiknas atau Diklat Komputer.

V.                PENUTUP
Demikianlah  makalah ini kami buat, kami menyadari bahwa dalam makalah ini banyak kekurangan, untuk itu kami memohon kepada para pembaca yang budiman untuk memberikan kritikan yang sifatnya membangun yang sifatnya membangun makalah ini









DAFTAR PUSTAKA


Arsyad, Azhar. Media Pembelajaran. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005
            Sadiman, Arif F. Media Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996
Setiadji.  Devinisi Teknologi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1986
Syukur, Fatah. Teknologi Pendidikan.  Semarang: Rasail 2004




[1].  Drs. Fatah Syukur, Teknologi Pendidikan, Semarang: RASAIL, 2005, Hlm. 3
[2] . Dr. Setiadji, Devinisi Teknologi Pendidikan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1986, Hlm. 1
[3]  Dr. Azhar Arsyad, Media Pembekajaran, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004, Hlm.3-4
[4]  Arif F. Sadiman, Media Pendidikan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996, hlm.16-17

By emil salim with No comments

PENDIDIKAN SEBAGAI PEMASOK TENAGA TERDIDIK


PENDIDIKAN SEBAGAI PEMASOK TENAGA TERDIDIK
I.                    PENDAHULUAN
             Indonesia merupakan Negara berkembang, tetapi dalam pendidikan masih tertinggal dan belum berhasil mencetak tenag-tenaga terdidik yang begitu pandai dalam pendidikan. Sehingga kualitas pendidikan di Negara ini kalah dengan Negara-Negara tetangga. Oleh sebab itu, peningkatan mutu pendidikan di Indonesia harus di tingkatkan. Peningkatan mutu pendidikan bisa di lanjutkan dan di teruskan para penerus bangsa. Dengan pengetahuan yang luas, pemikiran yang logis akan membantu anak-anak Indonesia maju dalam paedagogiknya. Dengan adanya media yang tersedia di Negara kita sekarang, dapat membuat keterampilan skill seseorang, seperti alat komunikasi yang tanpa kita bertemu orang yang kita tuju tapi kita dapat berkomunikasi dengan tanpa kendala, adanya Internet yang membuat kita tau dunia luar.
             Dalam hal pendidikan ini yang ikut berperan bukan hanya siswa saja tetapi gurupun merupakan tonggak utama pendidikan siswa disekolah. Maka dari itu keprofesionalan guru sangat di butuhkan. Guru yang professional akan memberikan dampak positif, dan perubahan yang cukup mendasardalam pembaruan pada system di suatu lembaga pendidikan, dampak tersebut adalah efektifitas pendidikan, kepemimpinan yang kuat, pengelolaan tenaga pendidikan yang efektif, teamwork yang kompak, cerdas dan dinamis karna manusia ingin brekembang.
Pendidikan yang berlangsung seumur hidup itu berlangsung pada tiga lingkungan pendidikan keluarga, sekolah dan masyarakat. Pelaksanaan pendidikan dalam tiga lingkungan pendidikan sebagai penghasil tenaga yang telah terdidik sebagai berikut keluarga merupakan tempat pertama anak itu mendapatkan pendidikan. Sejak anak itu berada dalam kandungan anak telah mendapatkan pendidikan. Seperti telah diketahui di muka bahwa jenis pendidikan yang diberikan keluarga adalah bermacam-macam. Pendidikan berlangsung secara informal. Dalam keluarga orang tua merupakan pendidik utama dan pertama. Pada masyarakat yang sederhana pendidikan berlangsung dalam keluarga dan masyarakat. Anak meniru apa yang dikerjakan orang tua dan orang-orang dewasa dalam masyarakat. Setelah mendapatkan kemampuan yang diperlukan untuk hidup, maka ia dilepaskan dalam masyarakat.
             Dalam masyarakat mereka akan menjadi tenaga kerja yang dibutuhkan masyarakat. Dalam masyarakat yang lebih maju maka pendidikan di dalam keluarga tidak cukup, oleh karena itu orang tua menyerahkan pendidikan pada lembaga pendidikan formal yang disebut sekolah. Dalam sekolah anak diberi berbagai dibedakan pendidik dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Anak yang telah selesai pada tingkat pendidikan tertentu yang memerlukan keterampilan tertentu dapat masuk pada pendidikan nonformal dalam lembaga pendidikan masyarakat. Setelah mendapatkan tambahan keterampilan maka ia terjun kedunia kerja dalam masyarakat.

II.                RUMUSAN MASALAH
Pendidikan Sebagai Pemasok Tenaga Terdidik

III.             PEMBAHASAN
Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif di Indonesia harus di pandang bahwa, pembangunan tenaga kependidikan merupakan bagian dari pembangunan nasional. Untuk mendapat tenaga/pegawai yang professional perlu di lakukan berbagai upaya agar dapat menghasilkan calon tenaga kependidikan yang professional dan berkualitas. Peran guru sebagai pelajar (leamer). Seorang guru dituntut untuk selalu menambah pengetahuan dan keterampilan agar supaya pengetahuan dan keterampilan yang dirnilikinya tidak ketinggalan jaman. Pengetahuan dan keterampilan yang dikuasai tidak hanya terbatas pada pengetahuan yang berkaitan dengan pengembangan tugas profesional, tetapi juga tugas kemasyarakatan maupun tugas kemanusiaan. Di sini peran guru adalah:
1. Peran guru sebagai setiawan dalam lembaga pendidikan. Seorang guru diharapkan dapat membantu kawannya yang memerlukan bantuan dalam mengembangkan kemampuannya. 2. Peranan guru sebagai komunikator pembangunan masyarakat. 3. Guru sebagai administrator.  Seorang guru tidak hanya sebagai pendidik dan pengajar, tetapi juga sebagai administrator pada bidang pendidikan dan pengajaran. Seperti membuat rencana pengajaran, dll. Proses pengadaan ketenagaan pada umumnya meliputi beberapa tahap:
1.         Analisis Kebutuhan
Dalam tahap ini dilakukan analisis kebuuhan mengenai tenaga yang terpenting dalam proses ini adalah upaya untuk menentukan perencanaan dan ketenegaan yang sesuai dengan kebutuhan organisasi.
2.         Analisis Organisasi
Analisis Organisasi adalah proses penentuan unsur tujuan kegiatan dan struktur suatu badan dengan memperhitungkan lingkungan, internal dan eksternal.
3.         Analisis Jabatan
Analisis jabatan adalah proses, metode dan tehnik untuk mendapatkan data jabatan, mengolahnya menjadi informasi jabatan, menyajikan untuk program-program kelembagaan, serta ketatalaksanaan, dan memberikan layanan pemanfaatannya bagi pihak-pihak yang menggunakannya.
Dalam merencanakan ketenagaan dapat dipakai teknik forcasting, secara esensial ada tiga pendekatan terhadap forcasting ketenagaan, yaitu:
1. Unit utama dapat memperkirakan keseluruhan permintaan tenaga,
2. Unit kerja lain memperkirakan permintaan kebutuhan,
3. Ketenegaan masing-masing, ada pendekatan paduan antara keduanya.[1]

 Suatu pembangunan SDM secara seluruhan, serta melihat hubungan antar berbagai komponen yang saling berpengaruh. Dalam hal ini, pembangunan nasional sebagai sistemnya, dan pembangunan  bidang pendidikan harus didududkkan sebagai sub sistemya, yang sejajar dengan pembangunan-pembangunan di buang lainnya, seperti kesra dan social pollitik. Pada saat sekarang, ini pembangunan pendidikan dinomor duakan, bahkan sering di jadikan alat, untuk kepentingan-kepentingan politik. Dengan demikian apa yang telah di lakukan selama ini dalam PSDM kependidikan di Indonesia masih sangat tidak efekktif, dan efisien.
Secara oprasional penerapan konsep castter pengembangan tenaga kependidikan di Indonesia diidentifikasikan ke dalam strategi umum dan strategi khusus.
1.      Strategi Umum
a. mengembangkan tenaga kependidikan harus di laksanakan berdasarkan kebutuhan yang jelas
b. dalam dunia pendidikan harus di kembagkan sikap dan kemampuan professional
c. Kerja sama dengan perusahaan harus dikembangkan
2.      Strategi Khusus
a.       Berkaitan dengan kesejahteraan perlu di upayakan, bisa meliputi:
1.      Gaji tenaga pendidik perlu di perhatikan
2.      Peningkatan kesejahteraan dari pusat harus diikuti oleh pemerintah daerah
3.      Untuk daerah tepencil perlu perlu di berlakukan system kontrak dengan imbalan yang lebih baik  dan menarik
b.      Pendidikan prajabatan perlu memperhatikan
1.      Memperbaiki system pendidikan
2.      Perlu adanya reorientasi program pendidikan agar tidak terjadi ketimpangan tenaga kependidikan
3.      Tenaga pendidik perlu dilakukan secara matang
c.       Rekrutmen dan penempatan tenaga pendidikan perlu diperhatikan
1.      Rekrutmen tenaga kependidikan harus secara seleksi
2.      Rekrutmen sesuai dengan kebutuhan wilayah
3.      Tenaga kependidikan harus dikembangkan
d.      Peningkatan mutu pendidikan
1.      Kemampuan tenaga kependidikan perlu ditingkatkan
2.      Peningkatan tenaga kependidikan dapat dilakukan secara formal
3.      Sekolah perlu di beri kewenangan apa yang terbaik untuk peningkatan mutu pendidikan daerah
e.       Pegembangan karir tenaga kependidikan
1.      Pengangkatan tenaga kependidikan harus di lakukan dengan ketat
2.     Fungsi control dan pengawas perlu dioptimalkan
Maka dari itu peingkatan produktifitas sekolah perlu di kembangkan. Produktifitas pendidikan mengandung dua arti efektif dan efisien; Efektif berkaitan dengan unjuk kerja secara maksimal, dalam arti pencapaian target yang berkaitan dengan kualitas, kuantitas dan waktu. Sedangkan efisien berkaitan dengan upaya membandingkan masukan dengan bagaimana pekerjaan tersebut dilakukan. Dewasa ini produktifitas individu dapat perhatian yang cukup besar. Di dasarkan pada pemikiran bahwa produktifitas manapun bersumber dari individuyang melakukan kegiatan. Individu yang di maksud adalah tenaga kerja yang memiliki tenag akerja yang memadai. [2]
Pengembangan fikiran seseorang juga harus di tingkatkan, pengembangan pikiran seseorang sejak ia menangkap rangsangan dari luar dan ditingkatkan secara bertahap mulai dari pendidikan, pengalaman dan pelatihan. Model pendidikan yang kita terapkan dilingkungan jenjang pendidikan kita mulai dari pendidikan dasar sampai dengan pendidikan menengah, dan atas,  dengan demikian berfikir system telah membuka wawasan terhadap pengaruh lingkungan. Berfikir system lebih memungkinkan terbukanya kreatifitas dan inovatif seseorang.[3]
Produktifitas sekolah atau pendidikan mencakup tiga fungsi:
1.      Fungsi manajerial yang berkaitan dengan berbagai pelayanan untuk kebutuhan peserta didik dan guru
2.      Fungsi Behavioral yang keluarannya merujuk pada fungsi pelayanan yang dapat merubah prilakupeserta didik dalam kemampuan kognitif, keteramoilan dan sikap
3.      Fungsi ekonomi yang keluarannya diidentifikasi sebagai llulusanyang memiliki kompetensi tinggi.

Keberhasilan pendidikan di sekolah sangat di tentukan oleh keberhasilan kepala sekolah dalam mengelola tenaga kependidikan yang tersedia di sekolah. Semakin tinggi kepemimpinan ynag diduduki dalam organisasi maka nilai dan bobot strategic dari keputusan yang di ambilnya makin besar pula. Dalam hal ini, peningkatan prestasi tenaga kerja dapat dilakukan dengan meningkatkan prilaku tenaga kependidikan disekolah melalui aplikasi berbagai konsep dan tehnik manajemen personalia modern, Diantaranya:
1.      Perencanaan; Perencanaaan penyusunan tenaga kependidikan yang tepat memerlukan informasi yang lengkap da jelas
2.      Pengadaan; Merupakan kegiatan untuk memenuhi kegiatan tenaga kependidikan pada suatu lembaga tertentu
3.      Pembinaan dan Pengembangan; Setiap personil dari suatu lebaga perlu menyumbangkan kemampuannya untuk kepentingan lembaga dan bekerja lebih baik dari hari ke hari.
4.      Promosi dan Mutasi; Calon tenaga kependidikan yang akan di terima mengusahakan agar menjadi anggota organisasi yang sah sehingga mempunyai hak dan kewajiban dalam suatu lembaga
5.      Pemberhentian; Pemberhentian tenag a kependidikan merupakan fungsi personalia yang menyebabkan terlepasnya pihak organisasi dan personil dari hak dan kewajiban sebagai lembaga tempat bekerja dan tenaga kependidikan
6.      Kompensasi; Balas jasa yang di berikan dinas pendidikan dan sekolah kepadatenaga pendidikan
7.      Penilaian ; Penilaian tenag kependidikan biasanya di fokuskan  pada prestasi individudan peran sertanya pada kegiatan sekolah.[4]  
Sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas dosen/guru dan dalam rangka untuk meningkatkan pelayanan kepada para siswa/mahasiswa, maka swkolah/universitas telah mengambil beberapa kebijakan antara lain (1) mendorong dan memfasilitasi para guru/dosen melakukan studi lanjut, baik ke jenjang S2 maupun S3, (2) mengikuti pelatihan, seminar atau lokakarya, (3) mengikuti refressing course atau on job training, (4) penulisan buku ajar (5) mendorong dan memfasilitasi para guru/dosen untuk melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (6) meningkatkan atmosfir akademik secara terus menerus dan konsisten untuk studi lanjut (S-2,S-3),Peningkatan jabatan fungsional, penambahan dosen, training khusus, penelitian atau publikasi ilmiah, on job training untuk meningkatkan pengalaman empiris.
         Dengan meningkatnya biaya dan kompleksitas penelitian dan pengembangan di bidang industri pada umumnya, perusahaan-perusahaan besar di  Indonesia dituntut untuk memasuki kawasan teknologi yang diperlukan. Situasi tersebut memberikan peluang bagi pendidikan tinggi untuk  meningkatkan perannya secara dinamis. Untuk mencapai hal tersebut penampilan profesional pendidikan tinggi terutama staf akademiknya perlu ditingkatkan kemampuan teknis dan manajerialnya secara seimbang dan serentak. Sehingga mampu memperhitungkan dengan baik setiap tahapan pada gambar di atas secara teknis, ekonomis, dan komersial. Pencapaian sikap profesional akan mengantarkan pendidikan tinggi untuk menemukan pembeli/pemakai hasil-hasil penelitiannya secara berkesinambungan dalam rangka menimbulkan kepemilikan industri (industrial property) atau paten (intelectual property) dari suat perbaikan proses atau pengembangan produk baru.
Peran serta masyarakat juga dalam bentuk hak menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat pada pendidikan non formal sesuai dengan kekhasan agama, lingkungan social dan budaya, untuk kepentingan masyarakat. Di sini penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat, mengembangkan dan melaksanakan kurikulum dan evaluasi pendidikan, serta manajemen pendanaan sesuai dengan standar nasional pendidikan. Masyarakat sebagai sumber, pelaksana, pengguna hasil pendidikan. Dalam hal pembiayaan, pemerintah masih mendukung, karna dikatakan bahwa dana penyelenggaran pendidikan berbasis masyarakat dapat bersumber dari penyelenggara masyarakat, pemerintah dan penyelenggara-penyelenggara yang lain asal tidak bertentangan dengan Undang-undang yang berlaku.[5]
Problematik yang sangat mendasar terkait dengan permasalahan pengangguran di      Negara  ini menyangkut tiga hal mendasar, amtara lain:
 Pertama : tingkat pendidikian rendah terutama di wilayah pedesaan, namun diperkotaan masalah penganggur cenderung didominasi oleh
angkatan kerja produktif. Kedua : golongan umur pengganggur terutama yang masuk
dalam katagori tenaga kerja produktif (usia 20-30 tahun) diperkirakan  mencapai 40,2 persen dari total penganggur yang ada. Ketiga : penguasaan teknologi dan keterampilan dari angkatan kerja, rata-rata masih tertinggal, yang diperburuk lagi oleh faktor keengganan dalam belajar beradaptasi. Terbatasnya kesempatan kerja lokal dan rendahnya tingkat keterampilan kerja, menimbulkan kompleksitas yang tinggi dalam penanganan tenaga kerja. Penyediaan lapangan kerja baru berbanding terbalik dengan penambahan jumlah pencari kerja baru, terutama lulusan SMTA dan sarjana yang meningkat tajam setiap tahunnya. Pembinaan tenaga kerja merupakan tugas dan tangggungjawab semua pihak, serta menuntut penyelesaian dalam jangka pendek maupun jangka panjang. ”Pendidikan dan keterampilan kerja sesungguhnya merupakan investasi masa depan. Oleh karena itu, pola dan strategi pembinaan terhadap angkatan kerja usia produktif, perlu mendapatkan perhatian yang
sungguh-sungguh dalam pola keterpaduan yang lebih profesional, sehingga angkatan kerja usia produktif mampu bersaing dan mengisi setiap kesempatan kerja yang ada dalam upaya membangun perekonomian diri, daerah dan bangsanya.

Keadaan yang di rasakan masyarakat Indonesia saat ini, antara lain :
a) Angka pengangguran tertinggi terjadi pada tamatan SLTA
b) Kecenderungan angka kemiskinan semakin meningkat. Keterbatasan lapangan
pekerjaan semakin mengurangi kesempatan masyarakat untuk mendapatkan
pekerjaan.
c) Ketersediaan lapangan pekerjaan yang terbatas.
e) Anggaran untuk belanja publik masih rendah dibandingkan dengan anggaran untuk       belanja aparatur.
f) Masih lemahnya koordinasi antar instansi pemerintah.
g) Perbankkan belum memberikan akses yang kepada masyarakat untuk meminjam
dana di bank.
i) Data pengangguran yang tidak sama antar masing-masing instansi.
j) Lemahnya kemampuan manajemen pada usaha kecil.
Jika masalah pengangguran yang demikian pelik dibiarkan berlarut-larut maka
sangat besar kemungkinannya untuk mendorong suatu krisis sosial. Suatu
krisis sosial ditandai dengan meningkatnya angka kriminalitas, tingginya
angka kenakalan remaja, melonjaknya jumlah anak jalanan atau preman, dan
besarnya kemungkinan untuk terjadi berbagai kekerasan sosial yang senantiasa
menghantui masyarakat kita
.[6]
Adapun solusi yang bisa membantu permasalahn tesebut:
1.  Memberikan kemudahan akses kepada masyarakat kelompok usaha produktif
     untuk mendapatkan pinjaman dari bank.
2.  Adanya regulasi pemerintah terkait dengan pengaturan pengiriman TKI
3.  Regulasi pemerintah tentang penanaman modal dan investai di daerah
4.  Mendidik tenaga kerja muda terdidik melalui BLK sehingga TKI yang dikirim
     keluar negeri adalah para pencari kerja yang sudah terdidik dan memiliki
     kompetensi.
5.  Pembentukkan lembaga milik desa (BUMDES)/lembaga keuangan mikro di setiap
   desa (Koperasi, BMT) sebagai basis penguatan ekonomi masyarakat desa.
6.  Perencanaan anggaran harus pro rakyat.
7.  Meningkatkan koordinasi antar instansi pemerintah.
8.  Perlu adanya pelatihan-pelatihan manajemen terhadap usaha-usaha kecil.
9.  Perlu adanya Bimbingan Usaha Mandiri Tenaga Terdidik (BUMTT) yang diatur
                   dalam kebijakan daerah.
IV.             KESIMPULAN
Dari banyaknya uraian di atas  dapat disimpulkan bahwasanya Pendidikan Sebagai Pemasok Tenaga Terdidik, Orang tidak akan mengerti apa-apa jika tidak memiliki pendidikan,  itu memang benar, tidak bisa di pungkiri  lagi karna dengan adanya pendidikan akan memberikan pengetahuan kepada para masyarakat luas, dengan adanya pendidikan maka seseorang akan termotifasi dengan pengetahuan-pengetahuan yang telah di didapatkanya. hal tersebut akan menumbuhkan skill masing-masing pada diri seseorang, bahkan dengan skill yang di miliki akan di kembangkan potensi seseorang. Dan dari zaman- kezaman pendidikan pada seseorang harus di tingkatkan.
Menejemen tenaga kependidikan mencakup beberapa hal, (1) Perencanaan pegawai, (2) pengadaan pegawai, (3) pembinaan dan pengembangan pegawai, (4) Promosi dan mutasi, (5) pemberhentian pegawai, (6) kompensasi, (7) penilaian pegawai. Semua itu di lakukan dengan baik dan benar agar apa yang diharapkan tercapai yakni tersedianya tenaga kependidikan dengan kualifikasi dan yang sesuai serta dapat melaksanakan pekerjaan dengan baik. Semua itu merupakan langkah-langkah demi memajukan pendidikan anak dalam pendidikan formal, agar nantinya tidak terjadi pengangguran, pada dasarnya pengangguran dipicu adanya tingkat pendidikan yang rendah, penguasaan teknologi yang kurang, dan untuk mengatasi hal tersebut maka pendidikan harus ditingkatkan dan pengentasan kemiskinan agar mereka bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi

V.                PENUTUP
Demikianlah pemaparan makalah yang dapat penulis sampaikan, penulis menyadari betul bahwa dalam penyusunan makalah ini banyak kekurangan-kekurangan, baik dalam struktur bahasa maupun struktur kalimat, maka dari itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi kebaikan makalah kedepannya, semoga makalah ini  dapat bermanfa’at bagi para pembacanya. Amin……






DAFTAR PUSTAKA
Atmodiwiro, Soebagio. 2000. Manajemen Pendidikan Di Indonesia. Jakarta: Pt. Ardadizya djaya
Mulyasa. 2003. Menjadi kepala sekolah Profesional. Bandung: Pt. Remaja Rosda
Nugroho, Rian. 2008. Pendidikan Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

















PENDIDIKAN SEBAGAI PEMASOK TENAGA TERDIDIK
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Manajemen Sekolah
Dosen Pengampu: Drs. H. Jasuri, M.S.I.






Disusun Oleh :
EMIL SALIM
073211029

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2010
 




[1]  Soebagio Atmodiwiro, Manajemen Pendidikan Di Indonesia, (Jakarta: Pt. Ardadizya djaya, 2000), Hlm. 207-208
[2]  Dr. Mulyasa, Menjadi kepala sekolah Profesional, (Bandung: Pt. Remaja Rosda Karya, 2003), Hlm. 127-130
[3]  Soebagio Atmodiwiro, Op.Cit., Hlm.275-276
[4]  Dr. Mulyasa, Op.Cit., Hlm. 130-159
[5]  Dr. Rian Nugroho, Pendidikan Indonesia, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), Hlm. 75
[6]  http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/2001/07/21/0018.html

By emil salim with 163 comments